Darfur, Sudan Barat — Bencana tanah longsor dahsyat menimpa desa Tarasin di Pegunungan Marra, Darfur Barat, pada Minggu, 31 Agustus 2025, menewaskan lebih dari 1.000 orang, sebagian besar warga sipil, termasuk ratusan anak-anak. Desa yang menjadi tempat perlindungan dari perang ini kini rata dengan tanah, menyisakan hanya satu orang yang selamat.
Longsor terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah pegunungan selama beberapa hari. Menurut organisasi bantuan Save the Children, sekitar 200 anak dipastikan tewas, dan ribuan lainnya masih dinyatakan hilang. Hingga kini, operasi penyelamatan terus berlangsung, meski terkendala medan ekstrem, rusaknya infrastruktur, dan akses yang nyaris terputus.
Direktur Operasi Save the Children untuk Sudan, Francesco Lanino, menyebut longsor ini sebagai “tragedi dalam tragedi,” menyoroti kondisi Darfur yang sudah dilanda perang saudara dan bencana kelaparan. “Separuh gunung runtuh dan menimpa desa. Tak ada yang tersisa dari bangunan atau fasilitas umum,” ujar Lanino.
Kelompok Gerakan/Tentara Pembebasan Sudan (SLM/A) yang menguasai wilayah tersebut juga mengonfirmasi bahwa seluruh penduduk desa Tarasin, yang dikenal sebagai sentra produksi jeruk, terkubur hidup-hidup. Mereka meminta bantuan darurat dari PBB dan organisasi kemanusiaan untuk mengevakuasi jenazah dan mendistribusikan bantuan.
Situasi semakin diperparah oleh perang yang telah berlangsung sejak April 2023 antara militer Sudan dan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 20.000 orang (beberapa laporan memperkirakan hingga 150.000) dan menyebabkan lebih dari 14 juta orang mengungsi. Desa Tarasin dihuni oleh warga yang mengungsi dari wilayah konflik sebelumnya.
Gubernur Darfur, Minni Arko Minnawi, menyebut insiden ini sebagai “tragedi kemanusiaan yang melampaui batas wilayah,” dan menyerukan intervensi global. Upaya bantuan kini bergantung pada transportasi darurat seperti keledai dan unta, karena jalan-jalan utama rusak berat dan tidak ada akses komunikasi.
PBB menyebut tantangan logistik sangat besar, terutama dalam kondisi musim hujan. “Kami tidak punya helikopter, dan semua pengiriman bantuan harus melalui jalur darat yang sulit,” kata Antoine Gérard, wakil koordinator kemanusiaan PBB untuk Sudan.
Bencana ini menyoroti krisis multidimensi yang melanda Sudan: bencana alam, perang saudara, kelaparan, dan kolapsnya layanan publik. Para pengamat menyebut longsor Tarasin sebagai simbol memilukan dari kegagalan sistemik yang tengah berlangsung di negara itu.