Jakarta, 25 Agustus 2025 – Gelombang unjuk rasa besar-besaran yang dimulai sebagai protes terhadap kenaikan tunjangan DPR berujung pada kerusuhan nasional, penjarahan, dan jatuhnya korban jiwa. Aksi yang dipicu keresahan publik terhadap gaya hidup elite politik ini telah mengubah wajah demonstrasi menjadi amarah rakyat yang meluas dari Jakarta ke berbagai kota besar lainnya.
Aksi Berawal Damai, Berakhir Ricuh
Seruan aksi muncul sepekan sebelumnya melalui media sosial oleh kelompok bernama Revolusi Rakyat Indonesia. Mereka menuntut pembatalan tunjangan DPR, pemakzulan Wapres Gibran, dan pembubaran DPR.
Ratusan massa dari berbagai elemen—mahasiswa, buruh, ojol, hingga pelajar—memenuhi area DPR/MPR. Meski awalnya damai, situasi memburuk saat malam. Polisi dan massa terlibat bentrok, dan sebanyak 169 pelajar ditangkap.
Kematian Affan, Simbol Ledakan Amarah
Puncak tragedi terjadi Kamis malam, 28 Agustus, saat Affan Kurniawan (21), pengemudi ojol, tewas terlindas kendaraan taktis Brimob di Pejompongan. Insiden ini memicu kemarahan nasional. Rekaman kejadian menyebar luas, memicu aksi balasan ribuan pengemudi ojol yang mengepung Mako Brimob.
Kerusuhan Meluas & Penjarahan Rumah Pejabat
Aksi menjalar ke Bandung, Surabaya, Makassar, dan Semarang. Gedung-gedung publik, seperti DPRD dan kantor polisi, dibakar. Pada 30 Agustus, rumah anggota DPR Ahmad Sahroni di Tanjung Priok dijarah massa setelah kabar ia berada di luar negeri saat krisis. Aksi serupa terjadi di rumah Eko Patrio, Uya Kuya, dan Sri Mulyani, diduga digerakkan oleh provokator melalui media sosial.
Barang seperti jam tangan, brankas, dan perabot dibawa kabur. Sebagian telah dikembalikan oleh warga, namun motif penjarahan masih diselidiki.
Kerugian Infrastruktur Capai Rp 900 Miliar
Menteri PUPR menyebut total kerugian infrastruktur akibat aksi mencapai Rp900 miliar, terutama di Jakarta, Jawa Timur, dan Makassar. Fasilitas yang rusak meliputi gedung DPR, halte TransJakarta, JPO, hingga kantor pemerintahan.
Gubernur Jakarta mencatat kerugian lokal sebesar Rp 80 miliar. Anggaran darurat telah disiapkan untuk pemulihan tanpa mengganggu proyek strategis nasional.
Catatan Demokrasi dan Masa Depan Bangsa
Demo 25 Agustus mencerminkan akumulasi keresahan: ketimpangan ekonomi, tekanan hidup, dan hilangnya kepercayaan pada elit. Penjarahan dan pembakaran bukan sekadar aksi anarkis, tapi tanda saluran aspirasi publik kian buntu.
Jika negara terus merespons dengan represi tanpa introspeksi, yang hilang bukan hanya ketertiban—melainkan legitimasi kekuasaan itu sendiri.
Sumber: Tempo, Katadata, Detik, CNBC, Metro TV