BANJARNEGARA – Upaya pencarian korban tanah longsor di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, masih terus dilakukan setelah bencana besar terjadi pada Minggu, 16 November 2025 pukul 14.30 WIB. Longsor dipicu hujan deras selama sekitar tiga jam dan menyebabkan tebing hutan pinus seluas kurang lebih 100×100 meter runtuh.
Hingga Senin (17/11), 27 warga masih dinyatakan hilang, sementara dua orang meninggal dunia, masing-masing atas nama Darti (29) dan Luwik/Lewih (40) yang sempat mendapat perawatan namun tidak tertolong. Satu korban lain, Esiah (22), ditemukan dalam kondisi meninggal pada Senin pagi sekitar pukul 07.40 WIB.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Semarang, Budiono, mengatakan proses pencarian sempat dihentikan karena cuaca mendung dan kondisi tanah yang belum stabil. “Dikhawatirkan ada longsor susulan,” ujarnya. Operasi pencarian dijadwalkan dilanjutkan Selasa (18/11) dengan pembagian tim ke tiga sektor pencarian.
Sementara itu, 41 warga berhasil dievakuasi setelah sebelumnya menyelamatkan diri ke hutan perbukitan tak lama setelah longsor terjadi. Namun tim SAR menghadapi medan berat karena ketebalan material longsoran yang menutup sebagian akses jalan desa dan menghambat pergerakan alat berat.
Ratusan Rumah Terdampak dan 800 Lebih Warga Mengungsi
BPBD Jawa Tengah melaporkan bahwa dampak longsor tergolong besar, dengan total 35 rumah tertimbun material longsor, 35 rumah lainnya mengalami retakan dan berada di zona rawan, serta 195 rumah tercatat terdampak. Akibat kondisi tersebut, lebih dari 800 warga terpaksa mengungsi untuk menghindari potensi longsor susulan.
Pengungsian tersebar di Kantor Kecamatan Pandanarum, GOR Desa Beji, dan Gedung Haji Desa Pringamba. Sebagian warga sebelumnya bertahan di kandang ternak yang berjarak sekitar 300 meter dari titik longsor. Salah satu warga, Tusri, menuturkan bahwa kandang tersebut dianggap paling aman dan menjadi lokasi evakuasi darurat sejak bencana longsor 2017.
Status Tanggap Darurat 14 Hari
Pemerintah Kabupaten Banjarnegara menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, dimulai 16 November 2025, setelah rapat koordinasi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah. Pemkab menyatakan proses evakuasi akan melibatkan alat berat mulai hari ketiga, dengan tetap mempertimbangkan risiko longsor susulan.
Dukungan Bantuan dari Berbagai Daerah
Respons bantuan lintas daerah mulai berdatangan. Kota Tegal mengirimkan berbagai logistik seperti paket sembako, hygiene kit, kasur lipat, pakaian, paket family kit, serta ratusan kilogram beras dan mie instan untuk membantu warga Banjarnegara dan Cilacap yang terdampak rangkaian bencana longsor. Bantuan tersebut juga dilengkapi minyak goreng, sarden, kornet, serta armada berupa ambulans Travello dan APV, yang dikirim bersama relawan PMI dan BPBD Kota Tegal.
Di Banjarnegara, PMI setempat mengerahkan sedikitnya 80 relawan, termasuk tim SIBAT dan PMR. Mereka bertugas melayani pengungsi, mendistribusikan logistik, mengoperasikan dapur umum, serta menyediakan ambulans, kereta jenazah, dan tangki air bersih. PMI Provinsi Jawa Tengah dan PMI wilayah eks Bakorwil III turut memperkuat dukungan.
Banjarnegara Wilayah Rawan Longsor
Peristiwa ini menambah rangkaian panjang sejarah longsor di Banjarnegara. Pada 2014, longsor di Dusun Jemblung menewaskan 12 orang, disusul kejadian serupa pada 2016 dan 2017 yang membuat ratusan warga mengungsi. BPBD Jateng bahkan mencatat Banjarnegara sebagai wilayah dengan kejadian longsor terbanyak pada 2017, yakni 33 kasus.