Ankara, 14 Oktober 2025 – Otoritas keamanan Turki menangkap dua orang yang diduga mata-mata badan intelijen Israel, Mossad, dalam operasi kontraintelijen gabungan yang melibatkan Organisasi Intelijen Nasional Turki (MIT), Kepolisian Istanbul, dan Kejaksaan Umum. Penangkapan dilakukan di Istanbul pada awal Oktober 2025.
Salah satu tersangka utama adalah Serkan Cicek, juga dikenal sebagai Muhammet Fatih Keles, seorang detektif swasta yang mengelola Pandora Investigations. Cicek diketahui menerima instruksi langsung dari agen Mossad, Faysal Rasheed, yang bertugas di pusat operasi daring Israel. Cicek diduga diminta melakukan pengintaian terhadap seorang aktivis Palestina yang menentang kebijakan Israel, dengan bayaran sekitar 4.000 dolar AS dalam bentuk mata uang kripto.
Selama operasi, Cicek melakukan pengawasan di distrik Basaksehir, Istanbul, pada awal Agustus 2025, namun gagal mengumpulkan informasi yang diharapkan Mossad. Selain Cicek, Turki juga menangkap pengacara Tugrulhan Dip yang diduga menyediakan data pribadi dari catatan publik untuk dijual kepada Mossad. Kedua tersangka saat ini ditahan dengan dakwaan spionase dan pengumpulan informasi rahasia negara untuk kepentingan politik dan militer.
Kasus ini juga mengungkap hubungan Cicek dengan Musa Koç, yang sebelumnya dihukum 19 tahun penjara karena spionase untuk Israel. Operasi ini menunjukkan peningkatan kewaspadaan intelijen Turki terhadap aktivitas mata-mata asing yang berusaha mengawasi para aktivis Palestina dan kelompok lain di wilayahnya.
Di sisi lain, Iran memperketat penegakan hukum terhadap mata-mata Israel dengan mengeksekusi mati Bahman Choubi-asl, seorang narapidana yang dianggap sebagai salah satu agen Mossad terpenting di Iran. Choubi-asl dituduh bekerja sama dengan Mossad untuk mencuri data pemerintah dan melakukan sabotase pada pusat data Iran. Mahkamah Agung Iran menolak bandingnya, menegaskan hukuman mati atas tuduhan “korupsi di Bumi.”
Kejadian ini menandai ketegangan tinggi antara negara-negara kawasan dan operasi intelijen Israel yang terus berlanjut, sekaligus menegaskan bahwa Turki dan Iran semakin serius menghadapi ancaman spionase asing.