KHARTOUM, 21 Oktober 2025 — Otoritas Penerbangan Sipil Sudan mengumumkan bahwa Bandara Internasional Khartoum akan kembali dibuka untuk penerbangan domestik mulai Rabu, 22 Oktober 2025, setelah ditutup selama lebih dari dua setengah tahun akibat konflik bersenjata antara militer Sudan dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF).
Pengumuman resmi tersebut disampaikan pada Senin (20/10), menyusul selesainya seluruh persiapan teknis dan operasional di bandara. Keputusan ini menandai langkah awal pemulihan infrastruktur strategis di ibu kota Sudan, yang selama ini menjadi salah satu pusat pertempuran paling sengit dalam konflik.
Sejak konflik meletus pada April 2023, lebih dari 20.000 orang dilaporkan tewas dan 14 juta lainnya terpaksa mengungsi, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun, estimasi dari sejumlah lembaga akademik di AS menyebutkan bahwa jumlah korban jiwa bisa mencapai 130.000 orang.
Pada Maret 2025, militer Sudan mengklaim telah menguasai kembali area strategis di Khartoum, termasuk bandara dan sejumlah fasilitas militer yang sebelumnya dikuasai RSF.
Meski penerbangan domestik akan kembali berjalan, Sudan masih menghadapi krisis kemanusiaan besar-besaran. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa 25 juta warga kini hidup dalam kondisi rawan pangan, sementara wabah kolera meluas di berbagai wilayah. Sistem layanan kesehatan nyaris lumpuh total akibat perang.Pembukaan kembali Bandara Khartoum dinilai sebagai titik terang di tengah gelapnya situasi kemanusiaan, namun upaya pemulihan jangka panjang dinilai masih jauh dari cukup tanpa gencatan senjata permanen dan penyelesaian politik yang komprehensif.