Rabat, 6 Oktober 2025 – Maroko diguncang aksi protes besar yang dipimpin oleh kelompok pemuda digital GenZ 212, menuntut perbaikan layanan kesehatan, pendidikan, dan keadilan sosial. Aksi ini dipicu kematian delapan ibu hamil di RS Agadir serta kritik atas prioritas pemerintah membangun stadion Piala Dunia 2030 di tengah krisis layanan publik.
Demonstrasi bermula 27 September dan meluas ke 11 kota besar seperti Rabat, Casablanca, Agadir, dan Tangier. Meski mayoritas damai, sejumlah aksi berujung bentrok. Di Lqliaa, tiga demonstran tewas ditembak saat diduga menyerbu kantor polisi. Lebih dari 400 orang ditangkap, 300 terluka (kebanyakan aparat), dan puluhan fasilitas umum dirusak.
Kelompok GenZ 212, yang dibentuk lewat Discord dan media sosial, kini diikuti lebih dari 170.000 anggota. Mereka menolak kekerasan dan menyerukan aksi damai, menyebut tuntutan mereka berfokus pada kebijakan pemerintah, bukan sistem monarki.
Pemerintah awalnya lamban merespons, namun kini PM Aziz Akhannouch menyatakan siap berdialog. Tekanan meningkat agar Raja Mohammed VI turun tangan, sementara oposisi mendesak pengunduran diri PM.
Aksi ini menjadi salah satu protes terbesar sejak 2011, dan menyoroti ketimpangan sosial di Maroko, di mana pengangguran pemuda mencapai 36,7% dan sistem kesehatan serta pendidikan berada dalam kondisi kritis.