You are currently viewing Berita Terkini Dunia Islam: Krisis Kemanusiaan Sudan Memburuk – Al-Fashir Terkepung, Warga Sipil Jadi Korban Terbesar

Berita Terkini Dunia Islam: Krisis Kemanusiaan Sudan Memburuk – Al-Fashir Terkepung, Warga Sipil Jadi Korban Terbesar

DARFUR, SUDAN — Sudan kembali menjadi sorotan dunia setelah konflik bersenjata yang berlangsung sejak April 2023 semakin memburuk dan menimbulkan krisis kemanusiaan besar. Pertempuran antara militer Sudan (SAF) dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) telah menewaskan ratusan ribu warga, membuat sekitar 14 juta orang mengungsi, serta mendorong 25 juta penduduk ke ambang kelaparan—angka terbesar dalam sejarah negara itu.

Di wilayah Darfur, khususnya kota Al-Fashir, situasi dinilai paling kritis. Kota strategis ini telah terkepung lebih dari 500 hari, membuat ratusan ribu warga sipil terjebak tanpa akses makanan, air bersih, atau layanan kesehatan. UNICEF melaporkan bahwa sekitar 130.000 anak masih berada di dalam kota dalam kondisi rawan. Listrik sering padam selama berhari-hari, akses internet terputus, dan bantuan kemanusiaan hampir tidak bisa masuk karena jalur yang diblokir.

Para saksi melaporkan penggunaan artileri, drone, serta serangan terhadap wilayah pemukiman dan kamp-kamp pengungsian. Banyak rumah hancur hingga lebih dari 90%, memaksa warga melarikan diri melalui jalur berbahaya atau bertahan dalam kondisi kelaparan. Harga bahan pokok meningkat hingga 10 kali lipat, sementara banyak keluarga hanya bisa makan sekali dalam dua hari—itu pun bila ada persediaan.

Selain kelaparan dan serangan bersenjata, laporan pelanggaran hak asasi manusia juga meningkat. Warga melaporkan tindakan kekerasan, penyiksaan, dan pembunuhan terhadap warga sipil. Kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak perempuan juga disebut terjadi dalam skala besar. Kelompok-kelompok kemanusiaan mengungkapkan bahwa korban mencakup perempuan usia lanjut hingga anak-anak berusia delapan tahun, banyak di antaranya enggan melapor karena stigma dan rasa takut.

RSF, yang berakar dari kelompok milisi Janjaweed, dituduh melakukan pelanggaran berat di sejumlah wilayah. Laporan dari lapangan menyebut adanya serangan ke fasilitas medis, penahanan tenaga kesehatan, dan eksekusi warga sipil. Dalam salah satu insiden di rumah sakit di Al-Fashir, ratusan pasien dilaporkan menjadi korban kekerasan.

Sementara itu, tim bantuan di Sudan harus beroperasi dalam kondisi sangat berbahaya. Pasar-pasar utama telah hancur akibat serangan, jalan-jalan dipenuhi kelompok bersenjata, dan distribusi logistik dilakukan di bawah pengawasan ketat. Meski demikian, para relawan tetap berusaha menembus wilayah konflik untuk mengirimkan makanan, air, dan obat-obatan kepada warga yang bertahan hidup di tengah kepungan.

Banyak warga Sudan yang berhasil melarikan diri menceritakan perjalanan panjang melalui hutan dan jalur terpencil untuk menghindari penculikan, kekerasan, atau penyerangan. Mereka berjalan hanya pada malam hari, tanpa makanan, demi menyelamatkan anak-anak mereka dari konflik yang tidak mereka pilih.

Krisis Sudan selama dua tahun terakhir disebut sebagai salah satu bencana kemanusiaan terbesar saat ini, meski perhatian internasional relatif minim. Minimnya liputan global disebabkan sulitnya akses informasi dari dalam negeri yang sering mengalami pemutusan jaringan. Warga Sudan mengaku satu-satunya cara membuat dunia mengetahui kondisi mereka hanyalah dengan foto dan video buram yang berhasil mereka kirimkan ketika koneksi internet sempat tersambung.

Dengan jutaan warga menghadapi kelaparan, tanpa tempat aman, dan terjebak dalam konflik berkepanjangan, Sudan kini berada di titik yang sangat genting. Banyak pihak menyerukan solidaritas internasional, penyelidikan pelanggaran kemanusiaan, serta tekanan global untuk membuka akses bantuan segera ke wilayah-wilayah yang dikepung.

Tinggalkan Balasan