Gaza, 2 Juli 2025 — Duka mendalam menyelimuti dunia kemanusiaan. Dr. Marwan Al-Sultan, Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara, gugur bersama istri dan putrinya serta seorang saudarinya dalam serangan udara brutal yang dilancarkan oleh Tentara Zionis. Rudal jet tempur F-16 menghantam langsung kamar tempat ia berada, menghancurkan satu keluarga yang selama ini menjadi garda terdepan pelayanan medis di tengah kehancuran.
Putri Dr. Marwan Al-Sultan yang selamat, Lubna, bersaksi bahwa hanya kamar ayahnya yang hancur total, sementara bagian lain dari apartemen tetap utuh. “Ayah dihantam roket di kamarnya, dan syahadat terucap di bibirnya,” ucap Lubna lirih. “Kami melihat karomah para syuhada pada beliau.”
Dr. Marwan Al-Sultan bukan seorang tentara. Ia bukan ancaman militer. Ia adalah dokter, ayah, dan pelayan kemanusiaan yang tak pernah meninggalkan tugasnya meski nyawa menjadi taruhannya. Ia tetap bertahan di RS Indonesia bahkan ketika rumah sakit dikepung dan dibombardir. Ketika dunia memalingkan muka, Dr. Marwan Al-Sultan tetap berdiri — dengan stetoskop di tangan dan nyala keberanian di dada.
Selama konflik berkepanjangan di wilayah Palestina, nama Dr. Marwan Al-Sultan identik dengan harapan. Ia memimpin tim medis dalam kondisi kekurangan logistik, listrik, dan obat-obatan. Ia berkoordinasi dengan tim kemanusiaan internasional dari berbagai negara, mendesak perlindungan terhadap fasilitas sipil. Namun pada akhirnya, ia menjadi sasaran dalam serangan yang tidak bisa disebut selain sebagai kejahatan perang.
Serangan terhadap Kemanusiaan
Serangan ini bukan sekadar pembunuhan terhadap satu keluarga. Ini adalah serangan terhadap prinsip-prinsip dasar kemanusiaan. Serangan terhadap dokter adalah serangan terhadap kehidupan itu sendiri. Menargetkan rumah sakit, rumah tenaga medis, dan warga sipil jelas melanggar hukum internasional dan konvensi Jenewa.
Palang Merah Indonesia menyebut Dr. Marwan Al-Sultan sebagai “simbol dedikasi dan keteguhan di tengah bencana.” Dalam kenangan para relawan, ia dikenal hangat, disiplin, dan selalu menyapa dengan kalimat yang kini terasa pahit: “Welcome to your embassy.”
Pada Desember 2024, ia sempat terusir dari rumah sakit karena pengepungan. Tapi ia kembali. Pada Mei 2025, ia kembali terusir lagi. Namun ia tak pernah meninggalkan Gaza Utara. Ia memilih tinggal di apartemen kecil bersama keluarganya — lokasi yang akhirnya menjadi tempat gugurnya sebagai syahid.
Dunia Tidak Boleh Diam
Syahidnya Dr. Marwan Al-Sultan dan keluarganya adalah pengingat pahit akan bahaya diamnya dunia. Ini adalah ujian moral bagi komunitas internasional. Sampai kapan pembantaian terhadap tenaga medis dibiarkan? Sampai kapan pemboman terhadap rumah sakit dianggap sebagai “kerugian sampingan”?
Kematian Dr. Marwan Al-Sultan bukan hanya kehilangan besar bagi rakyat Gaza. Ini adalah luka bagi seluruh umat manusia yang menjunjung nilai kehidupan, keadilan, dan kemanusiaan.
Kita tidak bisa membiarkan pembantaian ini menjadi statistik belaka.
Kita harus bersuara. Kita harus mengecam.
Penjajahan adalah kejahatan. Dan diam terhadap penjajahan adalah pengkhianatan terhadap nurani.
🕯️ Selamat jalan, dr. Marwan Al-Sultan. Semoga Allah menempatkan engkau dan keluargamu di taman-taman surga, bersama para syuhada. Jejakmu abadi. Perjuanganmu akan terus hidup.