Gaza, 1 September 2025 — Abu Ubaidah, juru bicara militer Brigade Al-Qassam—sayap bersenjata Gerakan Perlawanan Islam Hamas—dilaporkan gugur dalam serangan udara pasukan Zionis di Distrik Al-Rimal, Kota Gaza, Sabtu (30/8). Serangan tersebut juga menewaskan sedikitnya 24 orang, sebagian besar warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan.
Meski belum ada konfirmasi resmi dari pihak Hamas, berbagai sumber menyebut Abu Ubaidah berada di lokasi saat bangunan tersebut dihantam lima rudal. Serangan ini memicu kecaman luas, terutama karena lokasi yang diserang dikenal sebagai wilayah hunian sipil dan klinik komunitas.
Lebih dari Sekadar Juru Bicara
Dikenal juga dengan nama Hudaya Samir Abdallah Al-Kahlout, Abu Ubaidah telah menjadi wajah perlawanan rakyat Palestina selama lebih dari dua dekade. Pidato-pidatonya menyuarakan kritik terhadap pendudukan dan blokade, serta menyerukan keadilan bagi mereka yang terpinggirkan. Bagi banyak orang, ia bukan hanya seorang tokoh militer, tetapi juga simbol suara yang sulit ditemukan dalam konflik yang panjang dan penuh luka ini.
“Sebagaimana Anda berada di sini, saya ditanam… benih-benih itu akan bertunas.” — kutipan pesan terakhir Abu Ubaidah, kini tersebar luas di berbagai platform media sosial.
Narasi Berbeda dari Dua Pihak
Militer Zionis mengklaim operasi tersebut sebagai “keberhasilan strategis”, sementara kelompok HAM dan warga lokal menyebutnya sebagai tindakan yang membahayakan warga sipil dan kebebasan berekspresi. Selama dua tahun terakhir, operasi militer Zionis di Palestina telah mengundang perhatian dunia internasional, terutama terkait tingginya korban sipil dan pembatasan akses bantuan kemanusiaan.
PM Zionis menyebut kematian Abu Ubaidah sebagai “langkah maju dalam stabilisasi wilayah.” Namun, bagi banyak rakyat Palestina, kehilangan ini justru menguatkan tekad untuk terus bersuara, bahkan di tengah kesunyian dan ketakutan.
Warisan yang Sulit Dihapus
Beberapa jam setelah kabar duka menyebar, Brigade Al-Qassam merilis video Sayyid as-Syuhada, menampilkan wajah para pemimpin yang telah gugur, termasuk Abu Ubaidah. Video tersebut dianggap sebagai bentuk penghormatan dan penegasan bahwa semangat perjuangan tak mati bersama tubuh tokohnya.
Abu Ubaidah mungkin telah tiada, namun bagi banyak orang, ia mewakili semangat perlawanan yang lahir dari ketidakadilan, dan keberanian untuk tetap bersuara saat banyak memilih diam.
“Dia hidup dalam sunyi, berbicara dalam badai, dan gugur dalam terang keyakinannya,” ujar seorang warga Gaza.
Sumber: Al Jazeera, Radio Brigade Al-Qassam, Kementerian Kesehatan Gaza, Media Sosial Hamas