You are currently viewing Berita Terkini Palestina: Zionis Langgar Gencatan Senjata: 97 Warga Palestina Syahid, Netanyahu Bangga Menjatuhkan 153 Ton Bom ke Gaza

Berita Terkini Palestina: Zionis Langgar Gencatan Senjata: 97 Warga Palestina Syahid, Netanyahu Bangga Menjatuhkan 153 Ton Bom ke Gaza

GAZA, 21 Oktober 2025 — Di tengah kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat, militer Zionis kembali melancarkan gelombang kekerasan brutal di Jalur Gaza. Perdana Menteri Zionis Israel Benjamin Netanyahu, tanpa rasa bersalah, mengakui bahwa pasukannya telah menjatuhkan 153 ton bom ke wilayah yang sebagian besar dihuni warga sipil, hanya dalam satu hari, Minggu (19/10).

Pengakuan ini disampaikan Netanyahu di hadapan parlemen Zionis Israel (Knesset), Senin (20/10), dengan dalih membalas dugaan serangan Hamas di Rafah yang disebut menewaskan dua tentaranya. Namun, Hamas membantah keras tuduhan tersebut, menegaskan bahwa tidak ada pasukan mereka yang aktif di wilayah itu, yang saat ini telah dikuasai oleh militer Zionis.

80 Pelanggaran Gencatan Senjata, 97 Warga Palestina Syahid

Data dari Kantor Media Pemerintah Gaza menyebutkan bahwa sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober, Zionis Israel telah 80 kali melanggar kesepakatan. Akibatnya, 97 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak, syahid, serta lebih dari 230 lainnya terluka. Hanya dalam satu hari, Minggu lalu, 44 warga sipil menjadi korban serangan udara militer Zionis yang menyasar kawasan pemukiman padat penduduk di Rafah, Khan Younis, dan Gaza Tengah.

Tak hanya lewat udara, pasukan militer Zionis juga menembaki warga sipil yang berusaha kembali ke rumah mereka. Di Kota Gaza, empat warga Palestina tewas ditembak saat mencoba meninjau kondisi rumah di tengah reruntuhan. Militer Zionis berdalih korban melewati “garis kuning”—batas demarkasi yang tidak pernah jelas ditentukan secara fisik di lapangan.

“Seluruh area ini hancur. Kami tidak tahu di mana batas itu karena tidak ada tanda,” kata Samir, warga Tuffah, kepada Al Jazeera.

Penghinaan Terhadap Perjanjian Damai

Pernyataan Netanyahu soal “menjatuhkan 153 ton bom” justru dibanggakan sebagai “langkah kekuatan demi perdamaian”. Retorika tersebut dikritik sebagai bentuk penghinaan terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan dan hukum internasional, terutama ketika pelanggaran dilakukan terhadap wilayah yang masih berada dalam status gencatan senjata.

Bahkan PBB menyatakan keprihatinan serius atas pelanggaran tersebut. Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menyerukan semua pihak untuk menghormati gencatan senjata dan melindungi warga sipil dari kekerasan lebih lanjut.

AS Terus Dukung Zionis Israel, Tekanan Internasional Meningkat

Meski Amerika Serikat mengaku sebagai mediator perjanjian damai, Presiden Donald Trump justru mengancam akan “membasmi Hamas” jika kelompok itu tidak mematuhi gencatan senjata. Ironisnya, kekerasan yang terjadi sebagian besar justru berasal dari pihak Zionis Israel.

Trump juga menyatakan siap mengizinkan pasukan Zionis Israel kembali menguasai Gaza “dalam dua menit” jika diperlukan. Pernyataan ini memperkuat kritik bahwa AS telah memberikan dukungan tanpa syarat kepada Zionis Israel, meski korban sipil Palestina terus berjatuhan.

Krisis Kemanusiaan Memburuk di Gaza

Sebelumnya, militer Zionis sempat menghentikan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza sebagai bentuk tekanan terhadap Hamas, hingga akhirnya mencabut keputusan tersebut setelah ditekan Washington. Meski bantuan kembali dibuka, blokade ketat masih diberlakukan, memperburuk kondisi 2 juta warga yang terperangkap di wilayah yang kini lebih dari setengahnya diduduki militer Zionis.

“Pelanggaran-pelanggaran ini bukan insiden acak. Ini adalah kebijakan teror sistematis terhadap rakyat kami,” tegas pemerintah Gaza dalam pernyataan resmi.

Korban Terus Bertambah, Dunia Harus Bertindak

Sejak intensifikasi agresi terbaru militer Zionis pada Oktober 2023, lebih dari 68.200 warga Palestina telah syahid dan 170.200 lainnya luka-luka, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak.

Sementara dunia menyerukan perdamaian, militer Zionis terus memperluas pendudukannya, menargetkan infrastruktur sipil, dan menghancurkan kehidupan jutaan warga Palestina. Di tengah kehancuran dan penderitaan, Palestina terus berjuang untuk mempertahankan hak hidup dan martabatnya di bawah penjajahan yang belum berakhir.

Tinggalkan Balasan